91

Kreator Logo IKARHOLAZ Berpulang

Tidak ada yang menduga jumlah umur manusia. Tidak ada yang mengira batas hidup seseorang. Rasanya seakan tak percaya, tapi tidak mungkin dielakkan. Masih terbaca dengan jelas iklan penjualan Madu Asli dan Susu Almond yang kemarin dia promosikan di grup Ika Rholaz pada Pkl. 11.38 WIB.

Hari ini seluruh warga grup WA Ika Rholaz terhenyak mendengar kabar sang pemilik pariwara itu meninggal dunia. Ya, benar sekali Prasetyo Pitranggono yang akrab dengan panggilan Mas Pras telah meninggalkan kita semua, keluarga besar alumni SMPN 12 Surabaya.

Semalam, 14 Februari 2021 Mas Pras berpulang karena mengalami serangan jantung. Seharian itu beliau terlihat kurang sehat fisiknya. Sore itu Pras mendapatkan panggilan untuk terapi seorang pasien, sesuai dengan keahliannya sebagai seorang terapis pijat refleksi, dia pun berangkat menunaikan tugasnya.

Di tengah-tengah melakukan terapi pada pasiennya, Pras sudah menahan kesakitan. Entah mengapa saat itu dia merasa lelah sekali dan seperti ada sesuatu yang menekan di dadanya. Tubuhnya berkeringat, wajahnya pucat. Dia tidak bisa berlama-lama menjalankan tugasnya. Segera saja dia terburu-buru pamit undur dari rumah sang pasien.

Namun karena tak kuasa menahan sakit, daripada terjadi sesuatu di perjalanan, Pras pun memutuskan pulang dengan memesan ojek online. Sepeda motor yang dia gunakan dia tinggalkan di rumah pasien, yang ternyata merupakan orang terakhir yang menggunakan jasanya, dengan janji besok akan kembali untuk mengambil sepeda motor tersebut.

Sesampai di rumah, Pras menghubungi teman baiknya yang juga dikenal bisa memijat dengan baik. Pada teman ini, Pras mengeluhkan sakitnya yang seperti tiba-tiba. Rasanya tubuhnya tidak kuat untuk beraktivitas. Kesimpulan mereka berdua, mungkin karena Pras terlalu kecapekan akibat banyaknya aktivitas yang dijalani.

Namun belum lama Pras dipijat, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri sambil mengeluh sakit pada bagian dadanya. Segera saja Pras dibawa menuju ke RSI Jemursari untuk mendapatkan pertolongan medis secepatnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pkl. 23.00. Namun sebaik apapun usaha manusia, bila Tuhan berkehendak lain, apa daya kita sebagai manusia. Pkl. 00.05, Pras menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan keluarga yang dicintainya.

Ada banyak ungkapan tidak percaya dan keterkejutan atas berpulangnya Pras, karena kehidupannya meninggalkan banyak kesan yang baik. Pras dikenal sebagai seorang pekerja keras yang ulet dan pantang menyerah. Apapun dia usahakan. Kalau mengikuti WA group Ika Rholaz, betapa ada berbagai macam usaha yang dia kerjakan.

Awal mula dikenal sebagai seorang yang bergerak dalam jasa pembuatan desain logo, lalu menyatakan diri sebagai ahli terapis yang bisa mengatasi sakit seseorang dengan cara dipijat. Belakangan ini pada masa pandemi Pras membuat gebrakan baru dengan bergerak dalam bidang kuliner. Pras menawarkan kue pie susu buatannya. Pie susu ini sangat istimewa karena biasanya hanya kita dapatkan ketika berkunjung ke Pulau Bali, namun melalui Pras kita bisa mendapatkannya tanpa perlu meninggalkan Kota Surabaya.

Masih hangat dikenal sebagai penjual pie susu, dia mempromosikan juga Susu Almond dan Madu Asli. Baiknya lagi, untuk keluarga besar Ika Rholaz, Pras menyediakan diri untuk mengirimkan sendiri kue dan madu atau susu untuk pemesanan dengan alamat Kota Surabaya tanpa adanya tambahan biaya jasa pengiriman.

Demikian juga berbagai usaha lain sempat ditekuni oleh Pras demi usaha untuk mencari rejeki bagi keluarganya. Adapun sebagian usaha yang ditekuni oleh Pras sudah dia daftarkan dalam listing Ika Rholaz.

Lapak Mas Pras di listing IKARHOLAZ.ID

Salah satu sahabat baik Pras yaitu Andre menyatakan kedukaannya. Andre mengenang Pras sebagai seorang yang berpendirian teguh, ulet dan mudah bergaul. Mereka berdua yang sama-sama lulusan SMP 12 tahun 1991 ini merupakan sahabat karib yang masih berkomunikasi dengan baik. Andre berujar “Seminggu lalu kami masih bertemu di Pasar Pucang untuk CODan barang yang dia tawarkan”.

Andre tidak menyangka bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan terakhir mereka berdua. Andre mengingat masa-masa mereka pernah satu kelas saat kelas 2N, “Pras itu termasuk orang yang Don Juan, soalnya ngganteng kan orangnya… Dia juga pintar, makanya kan masuk SMA 2”. Andre menguraikan sifat Pras yang mudah bergaul sehingga banyak teman, suka bermain musik namun demikian Pras juga dikenal sebagai orang yang berkepribadian keras yang menjadikan dia memiliki pendirian teguh.

Bagi kalangan Ika Rholaz secara pribadi, Pras dikenang sebagai pembuat logo Ika Rholaz yang saat disayembarakan, logo buatannya mendapatkan apresiasi sebagai pemenang. Saat itu Ika Rholaz baru terbentuk secara organisasi dan diadakan Munas untuk pertama kalinya.

Sebagai sebuah organisasi tentu memerlukan identitas sebuah logo, keahliannya dalam bidang desain membuat Pras memberanikan diri untuk mengikuti lomba pembuatan logo Ika Rholaz. Hal ini tentu bukan semata demi keuntungan materi semata yang dia kejar. Kecintaannya pada almamater sekolah yang mendidik dan membesarkannya itulah yang membuat dia rela menyisihkan waktu demi membuat logo yang diberinya nama Segitiga Kebahagiaan itu.

Ada banyak kenangan kita sebagai sesama alumni SMP 12 terhadap seorang Prasetyo Pitranggono atau kita memanggilnya dengan sebutan Mas Pras. Meskipun interaksi kita sebagai sesama alumni dengan dia belum begitu lama, namun kenangan dan eksan dia sebagai seorang yang baik, tentu tidak bisa diragukan lagi.

Secara pribadi, setelah sekian waktu komunikasi melalui media sosial, penulis bertemu Mas Pras untuk pertama kalinya saat even Ika Rholaz Peduli di sebuah rumah makan di bilangan Manyar Rejo. Kami berbincang sejenak sekedar untuk mengenalkan diri masing-masing secara langsung. Saat ada sesi foto bersama, secara kebetulan saya ambil posisi bersebelahan dengan dia. Tidak saya duga, ternyata itu pertemuan pertama yang sekaligus pertemuan terakhir dengan Mas Pras.

Selamat jalan Mas Pras, doa kami menyertaimu…

Reporter: Okky Tri Rahardjo

Long Weekend, Songji Gowes Guyup di Jogja

Memanfaatkan masa long weekend Oktober, sejumlah alumni 91 ke Jogja pada Jumat (30/10/2020). Seluruh alumni berangkat menggunakan mobil pribadi. Di Jogja, Songji, julukan alumni 91 mengunjungi beberapa spot menarik seperti Kaliurang, Malioboro, dan Kraton Jogja. Seluruhnya ditempuh menggunakan sepeda.

Selain untuk silaturahmi, kedatangan Songji di kota budaya juga bermaksud untuk meramaikan cafe Cancane yang mana salah satu ownernya adalah alumni 91, yakni: Danya, Indrianto, dan Didit.

Menurut Dwi Budi, tujuan acara ini sebagai ajang silaturahmi antar alumni 91 sendiri. “Namanya juga koncoan, suasananya penuh guyup, rukun, seneng-seneng tok, mangan-mangan tok,” Jawab Dwi Budi saat ditanya mengenai kesan acara.

Diantara seluruh angkatan di SMPN 12 Surabaya, alumni 91 memang dikenal sering berkegiatan bersama. Terakhir di Batu minggu sebelumnya, dan di beberapa kota di Jawa Timur. (Toro)

Duo SONGJI Launcing KAPE OS Cabang Kacapiring

Dua Songji – sebuan alumni 91- Setyo Budi dan Andre sukses menggelar syukuran dibukanya KAPE OS di Jl. Kacapiring no. 07 Surabaya pada Minggu (2/2/2020). Tak kurang 200 pengunjung memenuhi cafe yang namanya diambil dari kata Omah Sri ini. Tak hanya alumni SMPN 12, pembukaan cafe juga dihadiri oleh teman-teman pemilik semasa SMA hingga kuliah.

KAPE OS yang baru dibuka ini merupakan cabang baru untuk daerah Surabaya dengan  mengedepankan cita rasa enak dengan harga terjangkau. Tersedia aneka kopi dari bermacam olahan dan minuman lain yang enak dengan harga terjangkau. 

“Untuk menu beratmya, KAPE OS menyediakan berbagai lauk pauk tradisional, seperti lodeh, sayur asem dan soup” Ujar Arief, alumni SMPN 12 yang berprofesi sebagai konsultan keuangan dan perpajakan.

Menurut Setyo Budi, salah satu pemilik, jam buka KAPE OS di cabang kacapiring sama dengan cabang Manyar Rejo yakni dari pukul 11 hingga 24 malam.  “Jam buka ini berbeda dengan Sidoarjo yang lebih pagi jam 10.00 dan tutup pukul 21.00 WIB.” Ujar suami Agustina ini yang sama-sama alumni SMPN 12.

Selain jam operasional berbeda, setiap cabang memiliki konsep dan nama yang berbeda pula. Omah Sri di Sidoarjo hadir dengan konsep makanan chinese food dan bebek kremes. Untuk Manyar konsep andalannya adalah minuman kopi kekinian dan beberapa variant olahan, aneka makanan berat ayam geprek, aneka masakan mie dan nasi goreng.

Budi mengaku memulai bisnis kuliner ini sejak 2015. Dimulai dengan modal  “kecil” namun berimpact besar, salah satunya bisa turut mewadahi interaksi dan bersilahturahmi antar alumni seperti saat pembukaan KAPE OS ini. Congrate and Rescpect!

(Toro)