Sosok

Bincang-bincang dengan Ita Aryuni, Alumni yang Angkatannya paling Meriah

Beberapa hari lalu diberitakan bagaimana meriahnya acara bagi takjil yang diselenggarakan IKA Songji. Acara yang diadakan di kawasan Ngagel pada Jumat (17/5/2019) itu mampu menyedot animo alumni baik dari alumni 91 sendiri maupun relawan lintas angkatan. Tak kurang 40an memadati jalanan tempat bagi tajil.

Redaksi berhasil menghubungi komandan bagi takjil, Ita Aryuni, pada Senin (20/5/2019) melalui telpon untuk melakukan sedikit wawancara mengenai kegiatan tersebut.

Mbak, tampaknya acaranya sukses nih. Ini rutin tiap tahun atau baru kali ini?
Alhamdulillah acara safari ramadhan bagi takjil tahun ini antusiasnya sangat luar biasa dan kegiatan ini memang rutin kita adakan tiap tahun sekali

Selain kegiatan bagi takjil apa saja yang dilakukan 91 selama bulan Ramadhan ini?
Kita tgl 24 mei besok akan mengadakan bakti sosial di panti asuhan yayasan kartini di jl. Siak

Dalam paket takjil kan ada tambahan paket dari IKARHOLAZ. Jujur, program bagi takjil lintas angkatan dari IKARHOLAZ ini bagus gak?
Saya sangat berterima kasih sekali atas support dari teman2 pengurus dan relawan ikarholaz lintas angkatan. Mereka cukup membantu sekali dan support kita. Ini juga sbg ajang jalinan silaturahmi dan saling mengenal alumni antar lintas angkatan

Apa harapan mendatang utk program bagi takjil lintas angkatan ini?
Semoga program safari ramadhan bagi takjil ini juga terlaksana di semua alumni lintas angkatan dan saling bersinergi antara alumni yg lain yg di jembatani oleh pengurus ikarholaz

Ada pesan yang disampaikan untuk alumni?
Ayoooo kita seduluran sak lawase rek. Tunjukkan eksistensi ikarholaz di luar. Ikarholaz Wani. []

Kunci Sukses : Padukan Rumus Umum dan Khusus Plus Fokus

Dr.Eng. Zainal Arief, ST., MT. adalah salah satu alumni SMP 12 yang sukses berkarir di bidang pendidikan. Pria yang hobi mbolang dan trail adventure tersebut saat ini diberi amanah untuk menjadi Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) untuk periode ke dua.

Menurut Zainal untuk mencapai kesuksesan ada beberapa rumusan yang harus dipadukan. “Ada rumusnya, rumus umum dan khusus, keduanya harus dipadukan dengan baik,” katanya membocorkan tips rahasia sukses yang diyakininya.

Rumus umum yang dipercaya pria kelahiran Surabaya dapat mendukung kelancaran hidupnya adalah berdoa dan yakin pada Allah SWT, berbakti pada orang tua, banyak bersedekah, serta berbuat baik pada sesama. Sedangkan rumus khususnya adalah ikhlas, bahagia, berkontribusi, dan komitmen. “Semua harus dilakukan bersamaan,” jelas putra pasangan Moch. Fadeli dan Hanifah itu.

Selain rumus yang telah dikatakan tersebut, Bapak 3 anak tersebut juga menitikberatkan pada fokus. Menurut Zainal dengan fokus pada apa yang menjadi bidang kita bagian kita segala yang dilakukan bisa maksimal. “ Kalau fokus nanti bisa maksimal, harus seperti itu, supaya bersambung supaya dapat meraih jenjang lebih tinggi dan tidak melebar. Perkara nanti naiknya kemana seberapa itu kan perjalanan hidup,” ujarnya.

Karena itulah sejak duduk di bangku SMP 12, suami Nur Qoniah tersebut sudah fokus menentukan pilihannya di bidang engineering. “Kalau jadi engineer sudah ada keinginan sejak SMP. Untuk jadi dosen, dulu belum ada, ternyata perjalanan akhirnya menempatkan di PENS Surabaya, tetep bidangnya engineering, fokus di pendidikan. Ya sudah kita tekuni, ikhlas ditempatkan di situ, dan maksimal berkontribusi hingga saat ini,” tegasnya.

Oleh anak pertama dari 5 bersaudara itu, rumusan sukses tersebut juga ditularkan ke adik dan anak – anaknya. Pada adiknya yang juga alumnus SMP 12 diminta Zainal untuk fokus pada bidang yang mereka tekuni dan sukai. “Tidak ada yang bisa mengalahkan orang fokus, karena segala yang dilakukannya akan maksimal dan maksimal pula hasilnya,” pungkasnya.

Penulis : Lusi Wardani

Wawancara dengan Mardjuki, Guru Legend Rholaz (Asal Mula IKARHOLAZ)

Pak Marzuki:
“Jadi ide membentuk IKA itu sekitar tahun 2006. Pas ketemu Rudi di lapangan SMP 12, aku dirangkul, pak, yoopo nek arak-arek dikumpulno?. Gak bisa, besarpun gak papa, perangkatan. Jadilah grup ’84, grup ’85, grup’ 86, ’87, ’88. Ketemu lagi grup ’98, ’99, 2000, 2001. Ketemu lagi Kholik, waktu ulang tahun SMP 12 ada pentas seni, itu kurang lebih tahun 2008.

“Ndan, awet enom ae.” Alhamdulillah Lik. Ayo yoopo dibentuk ikatan alumni?.” Aku punya ide sudah lama, tapi menghubungi siapa? Arek-arek tak gabungno iku angel, paling banter aku 4 angkatan. Aku gabung oleh pusss, gak onok kabare.

“Iki serius, pak!”. Oke, kapan ketemu? Tahun 2008, diundang di pojokan Marmoyo itu. Kumpul berapa angkatan itu? Sampai Jamal juga. Oke, hasil rapatnya ternyata kita serius, kita bentuk. Hasil akhirnya aku gak eroh, dikabari

“pak, angel. Karena masih ada yang merasa, iku anak kemarin sore, iku senior-senior, aku sungkan.”

Kalo namanya alumni tidak begitu. Masa kalah sama aku, STM Tuban bisa mengadakan reuni akbar, judule Mereka Kembali. Kalo gak bisa gakpopo wis, perangkatan.

“Ndan grupku sudah terbentuk ’84.” Oke, aku masuk, ke BBM. “Pak, ’85 sudah terbentuk, Bogeng. Ketuanya Hendro karo Rudi (arek Bea Cukai NTB). Iku golongane Rokib, ponakane sampean.”

Oke. Ketemu lagi atas-atasnya, gak apal aku. Ketemu Fian lulus tahun ’90 berapa gitu. Ketemu Erna dan ketemu anak-anak lagi, wis gak apal taune. Gak onok kabar.

Tahun 2012, “pak, iki serius!”. Mbelgedes, omong tok. “Ayo rundingan pak,”. Oke. Ketemu Vera karo Hera. Nek serius, ayo mlakuo mbak aku sing dukung. Apa sih tujuannya?

Kalo ’85 bisa terbentuk, silaturahminya kuat ada temannya yang susah kita bantu dan seterusnya, ada guru yang sakit, keluarga teman sakit mereka bisa saling berkunjung, berartikan bagus. Yang kedua, sekolah ini juga butuh perhatian. Sedangkan, sekarang narik uang dari masyarakat susah. Alumni-alumni sing sugih-sugih kan akeh, ayo dipikir bareng-bareng rek. Mboh pembangunan secara fisik, apa butuh laptop, apa butuh apa. Oke jalan. Terus ilang maneh.

Ketemu maneh 2012, Kholik maneh. “Pak saiki serius! Ndok Marmoyo maneh.” Berapa angkatan? “6 angkatan.” Oke, rundingen nek wis mateng aku undangen. Teko. Ketemu maneh, “angel pak, sing senior rumongso senior awak dewe sungkan. Sampean njeguro pak.”

La aku njegur. “Yo omongono pak.” Sing senior-senior tak hubungi, yoopo, dut? “Yoopo pak yo. Awakdewe saiki umur sakmene mosok kumpul arek enom-enom?.” Gak masalah kan? Namanya wadah IKA, ikatan alumni. Idene opo ae nduk kono. Nanti ada apa-apa kan, kita bisa saling bantu.

Contoh, koncoku gak duwe susah uripe, moso mbok ke’i dana terus. Kepandaiannya opo? Isok dodolan warkop, sumbang dana bukakno warkop. Jalan kan? De’e isok opo? Njahit, tukokno mesin jahit, jalan. Itulah tujuannya. Saling silaturahmi, menambah kekeluargaan, juga memikirkan sekolah. Bagus jane ide iku. Trus ilang maneh, mboh rek aku kesel!

Dihubungi, onok WA iku. Aku sek karo Rudi kontak. Aku, Rudi, Cahyo iku kontak terus. Karo Rudi arek ’85 pun kontak, “Ini dari teman-teman, rasa terima kasih atas bimbingannya bapak. Kami-kami ini jadi orang. Banyak yang pejabat, juga banyak yang di ABRI, banyak yang kolonel, ada yang jendral.

”Ojok omong tok ,ayu dibentuk. Ketemune 2018, “Ndan, aku wis menghubungi perangkatan sampe kesel, gak onok koncoe. Saiki aku ketemu pasangan.” Pas, sopo? “Hera, kenek diajak mlaku. Dia ada mobil.” Oke, ojok ngomong tok tak cokot kupingmu. Rudi krungu, “opo ndan?” Nyokot arek-arek, Rud. “melok pak, nek cokot-cokotan.” Yo cokoten kono, ngomong tok mbentuk IKA gak dadi-dadi. Mbentuk IKA? Ayo liq, ndi areke? Iki kenalno liq, iki angkatan ’84. “oh sopo? Mas Rudi, mas ngene-ngene….” Apik, lanjut.

Mboh ,trus ketemu warung sampean iku (Ruma Kopi Bendul Merisi, red). Baru rapat, ayo yoopo? Idene yoopo? Ideku ngene…. “Bagus pak!” Lanjut. Lakokno, aku garek ndelok. Gak mlaku tak cokot kupinge. Jalan mas. Kesulitan dana, “iki nek kumpul mangan-mangan, dana teko ndi pak? Iki sing teko bakale akeh.” Meneng aku. “Jare Rudi, sampean menghubungi Cahyo, engkok lak cair duwike.” Gampang lik, gak kurang akal. Nggo mangane dhewe-dhewe kan? “Betul.” Tarikono 100.000-an.

Muncul suara “Gurung opo-opo Tarik 100.000-an, kumpul sekian banyak orang, kemana pertanggung jawabannya?” C*k, deloko aku. Kon les nang nggonku opo gak? Aku tau narik kon gak? Ikulah pak Juki. Nek aku ngetokno duwik, mesti. Mulai bujang biyen, esuk bayaran sore entek. Iku pak Marzuki. Makane arek-arek sampe iling karo aku. Aku ndadikno arek akeh, nyekolahno arek akeh.

“Guyon pak.” Wis, sing gelem teko urunan 100.000, gak gelem minggir minggat. Jalan. “Kebentuk pak.“ Sopo? “Ketua formatur mas Cocon.” Sip! Neng mbak Wiwi ndek wingi akhire karo mas Bakris. Terakhir ketemu teko Jakarta iku. Ya, Dida. Udah mulai sekarang. Geng, hubunganmu luas, kumpul Piyu karo Ari Lasso gak iso tak cokot. Percuma ngedekno Surabaya Community, mbentuk IKA gak isok. “Beres bos!.” Humas kon, bagian gembor-gembor suoro njobo. “Beres!.” Kon keliling Indonesia, kongkon ngumpulno arek SMP 12 isok, Jakarta isok, Medan isok, gerak…areke, iku hubungane luas.

Jadilah sekarang, yang tanggal 16 (September 2018) nanti mau sosialisasi. Itulah sejarahnya, mau membentuk IKA itu ternyata gak semudah membalik tangan. Butuh proses dan perjuangan.