duka

Dalam Yasin Tahlil dan Doa Bersama, Ketum Sampaikan Data alumni Meninggal Selama Pandemi

Pandemi yang diakibatkan oleh adanya virus Corona atau yang dikenal dengan sebutan Covid 19, telah memakan waktu lebih dari satu tahun. Dalam kurun waktu tersebut, ada banyak yang sudah menjadi korban dari penyebaran virus ini. Baik berupa korban penderita sakit yang mengakibatkan seseorang harus menjalani isolasi mandiri maupun di rumah sakit, tidak sedikit pula korban jiwa yaitu pasien penderita Covid 19 yang meninggal dunia.

Kalau mengingat korban yang berjatuhan, tentu diantaranya ada orang-orang yang kita kenal. Baik itu anggota keluarga terdekat, kerabat, rekan kerja atau siapa pun yang menjadi lingkaran perkenalan kita. Diantara mereka, tidak bisa dihindari ada juga alumni SMPN 12 Surabaya yang ikut menjadi korban dari wabah virus yang masih belum ditemukan obatnya ini.

Oleh karena pandemi telah sekian waktu telah berjalan, korban jiwa pun mulai berjatuhan, maka Bidang Sosial dan Pengabdian Masyarakat/Almamater IKARHOLAZ mengadakan acara Yasin, Tahlil dan Doa Bersama.

Acara ini berlangsung pada Kamis, 12 Agustus 2021 yang dimulai tepat pkl. 19.30. terlambat setengah jam dari waktu yang direncanakan karena adanya hambatan teknis. Acara ini diikuti oleh seluruh alumni Ikarholaz beserta keluarga almarhum/ah melalui fasilitas zoom meeting dan streaming Youtube di channel IKA RHOLAZ. Adapun acara ini disiarkan secara live dari Studio Kopi Teman Enak yang berlokasi di Gayung Kebonsari Injoko VIII no 20 Surabaya.

Pembawa acara dipercayakan pada Prita Indradewi (Rholaz 92) yang mengawali dengan menyapa para rholazer yang bergabung secara virtual. Meskipun dilaksanakan secara virtual, namun terasa sekali suasana yang akrab dan guyub diantara para alumni yang mengikuti acara ini. Ary Pribawanto selaku ketua umum Ika Rholaz menyampaikan keprihatinan betapa banyak alumni SMPN 12 yang menjadi korban meninggal karena terpapar Covid 19.

Pria yang akrab dipanggil dengan nama Bogenk ini menyampaikan data angkatan paling banyak “menyumbangkan jumlah” korban meninggal yaitu alumni lulusan 1977 yang sebanyak 49 orang. Lalu disusul oleh alumni angkatan tahun 1977 dengan jumlah korban jiwa sebanyak 43 orang.

Bogenk menyampaikan bahwa perlunya penyampaian angka-angka korban terpapar Covid tersebut semata bukan hanya sebagai kerapian data, namun juga sebagai bahan instropeksi bahwa virus ini memang ada dan bukan virus sembarangan. Oleh karenanya, perlu sekali dalam masa-masa ini para alumni tetap menjaga diri dengan senantiasa memperhatikan protokol kesehatan secara ketat.

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan sharing bersama narasumber yaitu alumni yang bergerak dalam tenaga kesehatan, mereka adalah dr. Neneng Dwi Kurniati, Sp. MK (Rholaz ’94) yang bertugas sebagai Dokter Spesialis Mikrobilogi Klinik RSUD dr. Soetomo Surabaya dan Maria Sri Wigati (Rholaz 84), seorang perawat yang berdinas di RSAL dr. Ramelan Surabaya untuk menangani pasien Covid. Beberapa alumni memanfaatkan momen ini untuk berdiskusi seputar penanganan Covid yang dijawab dengan baik oleh kedua narasumber tersebut.

Sebagai puncak acara diadakan doa bersama lintas agama yang dipimpin oleh tiga orang alumni mewakili iman dan kepercayaan masing-masing. Diawali dengan tahlil yang dipandu oleh Gus Jamal (Rholaz ’87). Berikutnya doa untuk alumni yang non muslim dipimpin oleh Pdt. Okky Rahardjo (Rholaz ’98) mewakili kalangan Kristen Protestan dan Kristen Katolik yang diakhiri oleh Putu Wulan (Rholaz ’88) sebagai representasi umat Hindu.

Adapun acara ini terselenggara berkat dukungan berbagai pihak. Diantaranya Kopi Teman Enak yang menyediakan tempat dan lighting beserta pendukung perlengkapan lainnya yang difasilitasi oleh Heri (Rholaz ’97). Berikutnya dukungan konsumsi ditunjang oleh Bakso Pipi Tembem dari Sandri (Rholaz ’97), kue lumpur yang disediakan oleh Linda (Rholaz 2000), brownis kukus tersaji oleh adik ipar Heri juga kue-kue yang lezat dibawakan oleh Tigris (Rholaz ’86) dan Bimo (Rholaz ’86) yang juga mendukung terlaksananya acara ini sehingga berjalan dengan meriah. Acara ini berakhir tepat Pkl. 21.00 dengan membawa suasana keharmonisan, toleransi dan keyakinan bahwa bangsa Indonesia akan pulih dari kondisi terpuruk akibat pandemi Covid 19** (okky)

Generated Content by Saklosen.

Foto-foto kegiatan

Kreator Logo IKARHOLAZ Berpulang

Tidak ada yang menduga jumlah umur manusia. Tidak ada yang mengira batas hidup seseorang. Rasanya seakan tak percaya, tapi tidak mungkin dielakkan. Masih terbaca dengan jelas iklan penjualan Madu Asli dan Susu Almond yang kemarin dia promosikan di grup Ika Rholaz pada Pkl. 11.38 WIB.

Hari ini seluruh warga grup WA Ika Rholaz terhenyak mendengar kabar sang pemilik pariwara itu meninggal dunia. Ya, benar sekali Prasetyo Pitranggono yang akrab dengan panggilan Mas Pras telah meninggalkan kita semua, keluarga besar alumni SMPN 12 Surabaya.

Semalam, 14 Februari 2021 Mas Pras berpulang karena mengalami serangan jantung. Seharian itu beliau terlihat kurang sehat fisiknya. Sore itu Pras mendapatkan panggilan untuk terapi seorang pasien, sesuai dengan keahliannya sebagai seorang terapis pijat refleksi, dia pun berangkat menunaikan tugasnya.

Di tengah-tengah melakukan terapi pada pasiennya, Pras sudah menahan kesakitan. Entah mengapa saat itu dia merasa lelah sekali dan seperti ada sesuatu yang menekan di dadanya. Tubuhnya berkeringat, wajahnya pucat. Dia tidak bisa berlama-lama menjalankan tugasnya. Segera saja dia terburu-buru pamit undur dari rumah sang pasien.

Namun karena tak kuasa menahan sakit, daripada terjadi sesuatu di perjalanan, Pras pun memutuskan pulang dengan memesan ojek online. Sepeda motor yang dia gunakan dia tinggalkan di rumah pasien, yang ternyata merupakan orang terakhir yang menggunakan jasanya, dengan janji besok akan kembali untuk mengambil sepeda motor tersebut.

Sesampai di rumah, Pras menghubungi teman baiknya yang juga dikenal bisa memijat dengan baik. Pada teman ini, Pras mengeluhkan sakitnya yang seperti tiba-tiba. Rasanya tubuhnya tidak kuat untuk beraktivitas. Kesimpulan mereka berdua, mungkin karena Pras terlalu kecapekan akibat banyaknya aktivitas yang dijalani.

Namun belum lama Pras dipijat, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri sambil mengeluh sakit pada bagian dadanya. Segera saja Pras dibawa menuju ke RSI Jemursari untuk mendapatkan pertolongan medis secepatnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pkl. 23.00. Namun sebaik apapun usaha manusia, bila Tuhan berkehendak lain, apa daya kita sebagai manusia. Pkl. 00.05, Pras menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan keluarga yang dicintainya.

Ada banyak ungkapan tidak percaya dan keterkejutan atas berpulangnya Pras, karena kehidupannya meninggalkan banyak kesan yang baik. Pras dikenal sebagai seorang pekerja keras yang ulet dan pantang menyerah. Apapun dia usahakan. Kalau mengikuti WA group Ika Rholaz, betapa ada berbagai macam usaha yang dia kerjakan.

Awal mula dikenal sebagai seorang yang bergerak dalam jasa pembuatan desain logo, lalu menyatakan diri sebagai ahli terapis yang bisa mengatasi sakit seseorang dengan cara dipijat. Belakangan ini pada masa pandemi Pras membuat gebrakan baru dengan bergerak dalam bidang kuliner. Pras menawarkan kue pie susu buatannya. Pie susu ini sangat istimewa karena biasanya hanya kita dapatkan ketika berkunjung ke Pulau Bali, namun melalui Pras kita bisa mendapatkannya tanpa perlu meninggalkan Kota Surabaya.

Masih hangat dikenal sebagai penjual pie susu, dia mempromosikan juga Susu Almond dan Madu Asli. Baiknya lagi, untuk keluarga besar Ika Rholaz, Pras menyediakan diri untuk mengirimkan sendiri kue dan madu atau susu untuk pemesanan dengan alamat Kota Surabaya tanpa adanya tambahan biaya jasa pengiriman.

Demikian juga berbagai usaha lain sempat ditekuni oleh Pras demi usaha untuk mencari rejeki bagi keluarganya. Adapun sebagian usaha yang ditekuni oleh Pras sudah dia daftarkan dalam listing Ika Rholaz.

Lapak Mas Pras di listing IKARHOLAZ.ID

Salah satu sahabat baik Pras yaitu Andre menyatakan kedukaannya. Andre mengenang Pras sebagai seorang yang berpendirian teguh, ulet dan mudah bergaul. Mereka berdua yang sama-sama lulusan SMP 12 tahun 1991 ini merupakan sahabat karib yang masih berkomunikasi dengan baik. Andre berujar “Seminggu lalu kami masih bertemu di Pasar Pucang untuk CODan barang yang dia tawarkan”.

Andre tidak menyangka bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan terakhir mereka berdua. Andre mengingat masa-masa mereka pernah satu kelas saat kelas 2N, “Pras itu termasuk orang yang Don Juan, soalnya ngganteng kan orangnya… Dia juga pintar, makanya kan masuk SMA 2”. Andre menguraikan sifat Pras yang mudah bergaul sehingga banyak teman, suka bermain musik namun demikian Pras juga dikenal sebagai orang yang berkepribadian keras yang menjadikan dia memiliki pendirian teguh.

Bagi kalangan Ika Rholaz secara pribadi, Pras dikenang sebagai pembuat logo Ika Rholaz yang saat disayembarakan, logo buatannya mendapatkan apresiasi sebagai pemenang. Saat itu Ika Rholaz baru terbentuk secara organisasi dan diadakan Munas untuk pertama kalinya.

Sebagai sebuah organisasi tentu memerlukan identitas sebuah logo, keahliannya dalam bidang desain membuat Pras memberanikan diri untuk mengikuti lomba pembuatan logo Ika Rholaz. Hal ini tentu bukan semata demi keuntungan materi semata yang dia kejar. Kecintaannya pada almamater sekolah yang mendidik dan membesarkannya itulah yang membuat dia rela menyisihkan waktu demi membuat logo yang diberinya nama Segitiga Kebahagiaan itu.

Ada banyak kenangan kita sebagai sesama alumni SMP 12 terhadap seorang Prasetyo Pitranggono atau kita memanggilnya dengan sebutan Mas Pras. Meskipun interaksi kita sebagai sesama alumni dengan dia belum begitu lama, namun kenangan dan eksan dia sebagai seorang yang baik, tentu tidak bisa diragukan lagi.

Secara pribadi, setelah sekian waktu komunikasi melalui media sosial, penulis bertemu Mas Pras untuk pertama kalinya saat even Ika Rholaz Peduli di sebuah rumah makan di bilangan Manyar Rejo. Kami berbincang sejenak sekedar untuk mengenalkan diri masing-masing secara langsung. Saat ada sesi foto bersama, secara kebetulan saya ambil posisi bersebelahan dengan dia. Tidak saya duga, ternyata itu pertemuan pertama yang sekaligus pertemuan terakhir dengan Mas Pras.

Selamat jalan Mas Pras, doa kami menyertaimu…

Reporter: Okky Tri Rahardjo

Tutus Eko, Alumni 90, Meninggal Dunia

Tahun baru duka baru bagi Alumni 90. Salah satu rekannya, Tutus Eko Rifison meninggal dunia pada Selasa, 7 Januari 2020 sekitar pukul 23.00 dan akan dimakamkan keesokan harinya pada 8 Januari 2020 di Keputih, Surabaya pukul 09.00.

Kabar duku diketahui pertama dari adik almarhum Tutus yang juga merupakan alumni SMPN 12 lulusan 96. Tak heran banyak alumni 96 yang turut hadir di rumah duka disamping dari alumni 90 sendiri.

Sejumlah pengurus turut juga hadir di rumah duka di kompleks Alam Gunung Anyar Surabaya (Belakang PolTek Pelayaran), diantaranya Dini Herawati, Heryajati, Agsan, Mbak Wiwink, dan Subantoro. Hadir pula rekan-rekan sesama alumni SMPN 12 seperti Maryono, Retha, Saiful, dan lain-lain.

Berbagai doa dilayangkan untuk almarhum salah satunya dari Marjuki, mantan guru legend SMPN 12.

“Selamat jalan Tutus, kamu orang baik. Baik dalam pergaulan sesama teman maupun dalam perbuatan, tak doakan smg semua amal ibadahmu diterima Allah swt dan husnul khotimah. Amiinn ya Allah amin.” Ucap guru yang juga merupakan penggagas IKARHOLAZ.

IKARHOLAZ Berduka, Salah Satu Perintisnya Berpulang

Umur manusia memang tidak ada yang bisa menebak sampai kapan. Hal tersebut juga menimpa salah satu anggota sekaligus pengurus IKA Rholaz yang sangat berpengaruh terhadap berdirinya IKA Rholaz, Rudi Oktavianus meninggal dunia di usia 51 tahun pada Kamis (5/11/2019) Sore.

Ucapan duka dan doa mengiringi kepergian sosok yang dikenal sebagai Mr. Smile ini karena kepribadiannya yang tidak pernah menunjukkan wajah muramnya. Ia juga terkenal di kalangan alumni IKA Rholaz karena suara emasnya. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri IKA Rholaz.

“Turut berduka cita atas kepergiannya Rudi Oktavianus. Ketahuilah bahwa orang yang engkau kasihi adalah orang yang baik, Ia adalah hamba Tuhan yang selalu mendengarkan dan turut perintah Tuhan maka yakinlah di Mazmur 116:15 ‘Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya’.” Komentar salah satu anggota WAG IKARHOLAZ yang merasa sangat kehilangan.

Iringan doa juga dihaturkan kepada keluarga yang ditinggalkan dari beberapa rekan semoga diberikan ketabahan berupa kiriman bunga, doa perhatian, serta kehadiran rekan-rekan alumni SMP N 12 Surabaya ke rumah duka.

Sementara itu, almarhum dimakamkan pada hari Sabtu (7/11/2019) siang setelah sebelumnya dilaksanakan upacara penutupan peti pada pukul 11.00 WIB.

Kenangan bersama Rudi Oktavianus bagi para alumni sangat mengena, karena beliau dikenal suka menghibur teman-teman lewat suara emasnya, juga dedikasinya sungguh luar biasa dalam membentuk organisasi. Almarhum selalu mengusahakan datang rapat, lembur demi merumuskan AD ART. “Setiap acarapun, baik event maupun rapat, tidak pernah datang terlambat.” Ujar Novi di grup pengurus. (NS)

KABAR DUKA, Adik Kandung Arry Bogenk Meninggal Dunia

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. IKARHOLAZ kembali berduka. Pagi ini, kabar duka datang dari keluarga Arry Pribawanto, Ketua Umum IKARHOLAZ.

Denty Febriana Kurniasari, adinda dari Arie Bogenk (85) dan Bubby Andita (87) meninggal dunia pada Sabtu (20/7/2019). Kabar duka ini diungkap oleh salah seorang member WAG dengan mengolah kiriman Arry.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Denty Febriana Kurniasari binti Bambang Soedibjantono. Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘aafihi wa’ fu’anhu. Semoga husnul khotimah dan diterima disisiNya dgn tenang. Semoga keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Aamiin Allohumma aamiin..???????? Rumah duka : Raya Wisma Tropodo blok U no 18 ( depan Alfamidi ) Rencana akan dimakamkan siang ini sekitar pkl 13.30 WIB.

Tentang sang adik dan penyebab almarhumah meninggal diungkap Arry saat sampai di rumah duka setiba dari Jakarta. “Adikku uwonge periang, jantungnya bocor sudah bawaan dari lahir”.

Kesan mendalam terkait pribadi Denty juga disampaikan Arry, “Arek e resik an , seneng moco , lek anak e gawe kesalahan cara menghukumnya yg mendidik misale kudu moco buku sekian halaman engkuk dikon nyritakno.” Imbuhnya.

Saat ini jenazah Denty Febriana masih disemayamkan di rumah orang tua Wisma Tropodo, dan akan dimakamkan sore hari di pemakaman Taman Swargo Kepuh Permai.

Sejumlah alumni tampak hadir ditengah para pelayat, diantaranya : Dwi 93, Retno 85, Irma 84, Retha 92, Yulia 91, Novi 93, Alief Akbari 84, Nuggie 91, Ayu 84, Agoes 87, Erick 87, dan beberapa alumni IKARHOLAZ lainnya.. [NCL]

Update foto pemakaman: